Kamis, 08 Oktober 2009 , 02:54:00
BANDUNG, (PRLM).- Kepala Badan Geologi Bandung Sukhyar mengatakan, pemanfaatan budaya lokal atau pengetahuan asli yang berkembang di masyarakat lokal, cukup memegang peranan penting dalam mengurangi risiko bencana.
Dicontohkannya, soal pemanfaataan budaya asli dalam kaitannya dengan sistem komunikasi peringatan dini bencana, telah dilakukan di Kepulauan Mentawai, yang merupakan daerah rawan bencana. Masyarakat setempat, melalui penggalian budaya asli setempat, dapat bertindak efektif saat bencana akan terjadi.
Penggunaan budaya lokal sebagai bagian dari mitigasi bencana, kata Sukhyar, perlu dikembangkan dan didokumentasikan di Jabar. Selama ini, penggalian budaya asli untuk kepentingan sistem peringatan dini bencana sering tidak efektif karena tidak ada dokumentasi mengenai pengetahuan tradisional tersebut. Padahal, tingkat perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lainnya di Jabar sangat tinggi, yang menyebabkan, hanya penduduk asli saja yang memahami budaya lokal tersebut.
Oleh karena itu, kata dia, pemerintah dan lembaga lainnya yang terkait, perlu mengeksplorasi dan mendokumentasikan budaya lokal di Jabar untuk kepentingan mitigasi bencana. Dijelaskannya, pemanfaatan budaya lokal untuk kegiatan mitigasi bencana akan dapat menjadi subsitusi dari sistem peringatan dini yang pembangunannya membutuhkan biaya mahal. "Jika penggalian budaya lokal dapat didokumentasikan dengan baik maka kita dapat memanfaatkan itu sebagai sistem peringatan dini terhadap bencana," ujarnya menjelaskan.
Lebih lanjut, kata dia, sistem peringatan dini berbasis budaya lokal perlu dikembangkan di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh pemerintah dan institusi lainnya. Metode kearifan lokal yang mereka miliki dalam sistem peringatan dini tersebut akan dapat mengantisipasi datangnya bencana. (A-133/A-50)***
BANDUNG, (PRLM).- Kepala Badan Geologi Bandung Sukhyar mengatakan, pemanfaatan budaya lokal atau pengetahuan asli yang berkembang di masyarakat lokal, cukup memegang peranan penting dalam mengurangi risiko bencana.
Dicontohkannya, soal pemanfaataan budaya asli dalam kaitannya dengan sistem komunikasi peringatan dini bencana, telah dilakukan di Kepulauan Mentawai, yang merupakan daerah rawan bencana. Masyarakat setempat, melalui penggalian budaya asli setempat, dapat bertindak efektif saat bencana akan terjadi.
Penggunaan budaya lokal sebagai bagian dari mitigasi bencana, kata Sukhyar, perlu dikembangkan dan didokumentasikan di Jabar. Selama ini, penggalian budaya asli untuk kepentingan sistem peringatan dini bencana sering tidak efektif karena tidak ada dokumentasi mengenai pengetahuan tradisional tersebut. Padahal, tingkat perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lainnya di Jabar sangat tinggi, yang menyebabkan, hanya penduduk asli saja yang memahami budaya lokal tersebut.
Oleh karena itu, kata dia, pemerintah dan lembaga lainnya yang terkait, perlu mengeksplorasi dan mendokumentasikan budaya lokal di Jabar untuk kepentingan mitigasi bencana. Dijelaskannya, pemanfaatan budaya lokal untuk kegiatan mitigasi bencana akan dapat menjadi subsitusi dari sistem peringatan dini yang pembangunannya membutuhkan biaya mahal. "Jika penggalian budaya lokal dapat didokumentasikan dengan baik maka kita dapat memanfaatkan itu sebagai sistem peringatan dini terhadap bencana," ujarnya menjelaskan.
Lebih lanjut, kata dia, sistem peringatan dini berbasis budaya lokal perlu dikembangkan di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh pemerintah dan institusi lainnya. Metode kearifan lokal yang mereka miliki dalam sistem peringatan dini tersebut akan dapat mengantisipasi datangnya bencana. (A-133/A-50)***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar